MENJADI KETUA TAKMIR MASJID “SEUMUR HIDUP”


Dalam perjalanan safar, aku singgah di salah satu masjid kampung. Sambil menunggu sholat tiba, aku menyempatkan diri berbincang-bincang dengan pemuda masjid setempat yang kebetulan sama-sama sedang beristirahat sambil menunggu waktu sholat tiba. Tak lama kami berbincang, datanglah seorang laki-laki yang sudah sangat lanjut usia menuju masjid, dengan mengenakan sorban yang dililitkan di leher serta peci nasional yang kas, mengesankan bahwa lelaki tua tersebut orang yang berpengaruh di masjid setempat. Kemudian orang tua itu, membuka pintu masjid satu demi satu,  yang menandakan akan segera masuk sholat.

Singkat cerita, sholat pun dilaksanakan dengan imam rawatib sang lelaki tua tadi. Setelah usai sholat, aku agak heran dengan kondisi masjid tersebut, masjid yang sedemikian megahnya, bahkan sedang proses renovasi, ternyata sedikit pemuda yang nampak sholat berjama’ah di masjid. Setelah usai sholat berjama;ah, aku mencoba menghampiri pemuda masjid yang barusan ku kenal untuk sekedar mencari jawab atas keherananku. “Mas, masjid sini besar dan megah, kenapa tak nampak pemuda yang aktif sholat ke masjid ?”

Mendengar pertanyaan ku, pemuda tadi menjelaskan, “wah.. masjid di sini repot mas, ketua takmir masjidnya ngak bisa merangkul pemuda dan cenderung otoriter, apa yang menjadi keinginannya seakan-akan harus terlaksana. Masjid sini ngak mungkin ada perubahan kok mas”. Mendengar jawaban pemuda tadi, aku malah tambah penasaran, “…..sebentar mas, anda tadi mengatakan, masjid di sini ngak mungkin ada perubahan ?” Memangnya kenapa mas ? Tanyaku kembali padanya.

“Begini mas, jenengan tahu tidak …laki-laki tua yang tadi buka pintu masjid dan kemudian jadi imam sholat ?” Oya, pasti tahu dong”, jawabku singkat. “Laki-laki tua tadi adalah ketua Takmir Masjid sini mas, kalau orang kampung sini kadang mengistilahkan dengan Ketua Takmir Masjid “Seumur Hidup”. Jenengan tahu tidak mas, kenapa dikatakan ketua Takmir masjid “Seumur Hidup ? Sebab sejak berdirinya masjid hingga saat ini, dirinya tak mau diganti menjadi ketua takmir masjid “. Ya, kalau dirinya punya ilmu yang mumpuni, punya prestasi yang baik, tidak ada orang yang mampu mengantikannya atau punya kharisma ulama’ sih mungkin wajar”. Tapi, Ketua Takmir Masjid sini sepertinya lebih senang jadi Ketua Takmir Masjid, ingin mempertahankan aset yang telah dibangunnya selama ini atau merasa menjadi wakil ormas di mana masjid ini di wakafkan.

Padahal mas, potensi ummat Islam di kampung ini sangat banyak, disamping itu banyak yang lebih mampu dari takmir masjid saat ini. Bahkan pemudanya pun sebenarnya banyak, tapi mereka merasa bosan aktif di masjid. Ya…bagaimana tidak bosan, ketua takmir masjidnya saja puluhan tahun ngak pernah ganti, seperti rezim orde lama aja”. O…., begitu to….? Jawabku keheranan.

Pembaca sekalian, apa yang saya ceritakan di atas mungkin terjadi di masjid anda saat ini, maka jangan heran jika masjid-masjid kita saat ini tak pernah menemukan kemajuannya kecuali hanya bangunan fisik semata, remaja masjid antara hidup dan mati, tpa/tpq nya asal jalan, dan lain sebagainya. Dan yang mengherankan kondisi ini terjadi bertahun-tahun, tanpa iklim perubahan yang mampu membangkitkan semangat. Monotun dan stagnan, ya itulah masjid kita hari ini.

Mungkin kita heran ditengah teknologi canggih hari ini, dunia seakan ada dalam gengaman kita, kemudian belum lagi lahirnya alam demokrasi yang semua serba terbuka, presiden bisa bisa dikritik atas kebijakaannya. Bahkan para pejabat yang sewena-wena pun bisa dilawan oleh rakyat kecil dan lain sebagainya.

Tapi justru, perubahan yang terjadi di segala bidang tak diikuti masjid kita hari ini. Masjid enggan menerima perubahan. Banyak masjid kita hari ini ketua takmir masjidnya bagaikan seorang raja, yang tak mau dikritik apalagi disalahkan. Banyak Ketua Takmir masjid kita hari ini cara mimpinnya bagaikan pemimpin orde lama. Inginnya menjadi Ketua Takmir Masjid terus,  padahal sudah tidak produktif dan ngurus masjid saja,  tinggal waktu-waktu sisa.

Menjadi ketua takmir masjid “seumur hidup” , memberikan isyarat pada kita bahwa seakan-akan tidak ada potensi ummat yang lain kecuali dirinya.Seakan-akan jika masjid bukan dirinya yang jadi Ketua Takmirnya, masjid akan bubar dan tak ada aktivitas. Akhirnya, ummat tak merasakan adanya semangat dan perubahan iklim masjid, yang ada hanya itu-itu saja, sampai bosan, kapan mundurnya ?”

Pembaca sekalian, munculnya ketua takmir masjid “seumur hidup” sebenarnya tak perlu terjadi di masjid kita hari ini, sehingga rotasi kader masjid bisa berjalan dengan baik, selain itu dengan adanya iklim perubahan akan menumbuhkan semangat dan motivasi baru dalam memakmurkan masjid kita hari ini. Dan biasanya munculnya ketua takmir masjid “seumur hidup” dikarenakan:

  1. Tidak memahami bahwa menjadi ketua takmir masjid adalah amanah yang nantinya akan dimintai pertanggungjawab
  2. Biasanya banyak kepentingan dunia yang ada dibelakangnya, entah itu ormas atau partainya dll
  3. Takut kehilangan aset, baik bangunan, sarana prasarana yang telah di bangunnya.
  4. Terjadi banyaknya penyimpangan, khususnya dana masjid.

Untuk itu, mari kita adakan gerakan perubahan di masjid kita hari ini. Jika ditingkat pemerintahan saja bisa, kenapa di masjid kita hari ini tidak bisa kita lakukan…… Hari gini masih itu-itu saja, kapan mundurnya ……… ??

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s