Dicari Pengurus Masjid yang pandai membangun Ummat


Mbangun lagi-mbangun lagi….ini barangkali ungkapan yang sering kita dengar ditengah-tengah masyarakat dalam melihat perjalanan masjidnya selama ini. Dari tahun ketahun kemajuan yang nampak hanya dari sisi bangunan dan sarana prasarana semata. Tidak hanya puluhan juta, bahkan ratusan juta pun habis untuk sekedar mempercantik masjid biar dikatakan indah dan menawan, belum lagi dari sisi tenaga dan waktu yang terkuras habis untuk sekedar membangun fisik masjid. Ungkapan sebagaimana diatas boleh jadi mewakili dari ungkapan sekian jama’ah atau masyarakat muslim yang hidup disekitar masjid, yang tentunya sangat heran bahkan gerah dengan perjalanan masjidnya selama ini, yang lebih memprioritaskan bangunan fisik dari pada pembangunan ummat. Hal ini nampak jelas dengan banyaknya program keummatan yang seharusnya dibisa diperankan masjid, tapi kenyataannya program tersebut hanya mimpi dan cita-cita semata, tanpa realisasi. Fenomena banyaknya pengurus masjid yang lebih mementingkan bangunan fisik dan sarana prasarana masjid seakan-akan telah menjadi budaya masjid kita hari ini. Sehingga tidak ada agenda masjid yang paling penting kecuali hanya membangun semata. …..Ya inilah kenyataan masjid kita saat ini, masjid yang besar, megah dan indah, tapi miskin program, rutinitasnya tak lain hanya ibadah ritual semata dan sesekali menjalankan peringatan hari besar Islam, walau dengan biaya yang besarpun akan tetap dilangsungkan. Belum lagi jika menjelang bulan Ramadhan tiba, seakan-akan aktivitas dan kegiatannya pun hanya bermodal semangat semata, setelah Ramadhan berakhir kembali seperti semula, tanpa target dan tanpa perubahan, walaupun Ramadhan telah meninggalkan kita. Kenyataan sebagaimana di atas bisa terjadi tak lain karena sulitnya kita mencari pengurus masjid yang pandai membangun ummat, yang memiliki wawasan pemberdayaan ummat dengan baik dan tidak hanya sebatas menjadi imam atau pengisi khutbah semata. Kesulitan mencari pengurus masjid yang pandai membangun ummat saat ini, tak lain karena :

  1. Banyak pengurus masjid saat ini mayoritas dikelola oleh para orang tua. Padahal biasanya karakter dasar atau     umumnya orang tua yang hadir di masjid ingin lebih banyak mendekatkan diri pada Allah, tenang menjalani ibadah, tidak banyak terbebani dengan banyak urusan masjidnya. Semua itu dilakukannya agar memiliki bekal yang cukup di saat maut telah tiba. Maka, akan jadi lucu, jika para orang tua menjadi pengurus masjid, sebab program keummatan seringkali tidak selaras lagi dengan usia dan keinginan hatinya. Jika para orang tua jadi pengurus masjid, maka wajar jika yang ada dalam benaknya hanya bisa membangun fisik masjid semata, sebab cita-cita besar hanya ada dalam penak pemuda. Pemuda lah yang mampu mewujudkan mimpi jadi kenyataan, sedangkan orang tua seringkali lebih banyak berbicara tentang masa lalunya ……dulu aku bengini,……saat muda dulu aku mampu membuat ini ….dan lain sebagainya
  2. Menjadi pengurus masjid terkadang merupakan muara akhir, setelah lama bekerja dipemerintahan atau aktivitas mencari penghidupan lainnya, bahkan banyak pengurus masjid setelah pension, “karier” akhirnya berhenti di masjid. Maka anda bisa bayangkan jika yang menjadi pengurus masjid hanya memiliki sisa umurnya atau setelah produktifitasnya mandul. Tentunya hal ini akan berimplikasi bagi program keumatan masjid, sebab program kemmatan membutuhkan produktifitas, tenaga dan waktu yang tidak bisa hanya sisa-sisa semata.
  3. Banyak pengurus masjid yang tidak mawas diri, sehingga menjadi pengurus masjid lebih pada pertimbangan sebagai perintis awal atau yang memberikan sumbangan masjid yang paling banyak hingga masjid bisa berdiri. Dan bukan atas dasar kemampuan dan keahlian mengelola masjid dengan baik, sehingga ummat mendapatkan manfaat dari masjidnya.
  4. Banyak pengurus masjid yang mayoritas didominasi kalangan tua tidak mau mengalah dengan para pemuda, inginnya dihormati sebagai penasehat masjid, ingin mendapatkan amal lebih di masjid dan lain sebagainya. Akhirnya mereka berpikir bahwa jika ingin mendapatkan amal yang banyak jalan satu-satunya yakni jadi pengurus masjid, walau harus “menyingkirkan para pemuda”. Padahal kemampuan intelektual, fisik dan waktu luang sudah tidak lagi memungkinkan menjadi pengurus masjid, tapi tetap saja dipaksakan hanya ambisi ingin mendapatkan amal sebanyak-banyaknya di masjid. Orang tua memang lebih tepat menjadi jama’ah biasa saja agar lebih optimal beribadah dan punya kesempatan mendapatkan kemuliaan disaat usia telah menjadi sisa-sisa, sedangkan pengurus masjid serahkan pada para pemuda niscaya akan menemuka keberhasilan.
  5. Banyaknya pengurus masjid melakukan penyimpangan dan punya kepentingan dunia terhadap masjidnya, misalkan kedudukan, mencari masa disaat menjelang pemilu dan lain sebagainya. Jika kenyataan ada masjid yang demikian, maka tentu akan sangat sulit mencari pengurus masjid yang pandai membangun ummat, sebab pengurus masjid yang sedang “berkuasa” akan berusaha mempertahankan posisisnya dengan berbagai cara, sebab dirinya takut jika suatu saat nanti lengser dari pengurus masjid, semua akan jelas dan terbongkar keburukkannya….ya ini lah jika menjadi pengurus masjid dipandang sebagai jabatan.

Dari kenyataan diatas mencari pengurus masjid yang pandai membangun ummat akan sangat sulit, hal ini akan berakibat munculnya pengurus yang hanya bisanya membangun fisik masjid semata, tanpa prestasi dan tanpa kemajuan yang berarti

Kemudian yang jadi pertanyaan kita adalah salahkan membangun fisik masjid ? Memang tidak ada yang salah jika pengurus masjid bersepakat ingin membangun fisik masjidnya, tapi jika pembangunan ummat telah mampan….tapi jika pembangunan ummat saja tidak beres, lalu bagaimana akan membangun fisik masjid ??? Wah …memalukan dan sekaligus memprihatinkan pengelolaan masjid kita saat ini, jika ternyata pembangun fisik lebih dikedepankan. Dengan membangun fisik seakan-akan sedang pengurus masjid sedang berlomba-lomban untuk menampilkan masjid yang indah, cantik dan menawan, tapi sayangnya keindahan yang ditampilkan tak akan menghilangkan atau menutupi kekurangan aktivitas didalamnya, bahkan ada masjid yang hampir seluruh programnya tidak mampu berjalan dengan baik,…..tetapi masih saja punya ambisi untuk terus membangun masjid, sungguh ironis jika pengurus masjid dipegang orang-orang yang tak memiliki wawasan keummatan yang baik, akhirnya masjidnya bagus dan indah, tapi masyakarat disekitar masjid rusak dan merana. Pembaca sekalian, seharusnya kita memiliki indicator yang jelas, sebagai pembenaran pengurus masjid untuk membangun fisik masjidnya. Kalau boleh usul ada beberapa indokator yakni :

  1. Masjid tersebut sudah tidak muat lagi untuk menampung jama’ah yang akan sholat berjama’ah, khususnya sholat magrib (sholat yang ringan dijalankan ummat)
  2. Bangunan masjid tidak membahayakan jama’ah yang sedang beribadah
  3. Manajemen masjid terkelola dengan baik, tidak menejemen asal jalan, tanpa program kerja yang jelas dan tolak ukur keberhasilan dengan baik
  4. Memiliki Baitul maal Masjid terkelola dengan baik pula dan tidak asal jalan
  5. TPA/TPQ berjalan dengan baik dan tidak asal jalan, asal ada murid, asal ada guru atau yang penting jalan. Tanpa memiliki orientasi keberhaslan yang jelas. Pegajarnya pun asal ambil saja, padahal jelas-jelas tak memliki kemampuan sebagai pengajar Al Qur’an. Ya…ini lah kenyataannya jika menjalankan TPA/TPQ yang penting jalan dari pada tidak ……(mosok masjid kok ngak ada TPA/TPQ nya, kan malu masa jama’ah)
  6. Berjalannya system kaderisasi generasi masjid dengan baik, sehingga masjid tidak akan kehilangan amunisinya dan terus akan muncul generasi yang lebih baik, tidak malah remaja masjidnya dibubarkan ……(akhirnya binggung to …cari remaja masjid ??)

Demikian uraian singkat tentang problematika masjid saat ini, semoga Tulisan ini mampu memberikan pencerahan pada ummat untuk memikirkan masjidnya, sehingga masjid akan memerankan tugas dan fungsinya dengan baik, tidak seperti yang terjadi saat ini.

3 Comments

  1. Kenapa tidak pantas ? Kalau saya lebih memilih dengan istilah subsidi yang pantas dan bukan istilah gaji bulanan, sebagai bentuk pengormatannya memikirkan ummat….sebab seringkali kita kalau untuk masjid tidak bisa optimal karena memang memikirkan masjid hanya waktu sisa semata ….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s