Beranda » Peduli Taman Pendidikan Al Qur'an » PEDULI TAMAN PENDIDIKAN AL QUR’AN

PEDULI TAMAN PENDIDIKAN AL QUR’AN


Hidup segan mati pun tak mau, mungkin inilah gambaran nyata dari perjalanan Taman Pendidikan Al Qur’an di masjid kita saat ini. TPA/TPQ yang merupakan benteng pengkaderan generasi Islam masa depan  (yang telah teruji sekian tahun dalam memberikan pengajaran Al Quran), perlahan namun pasti telah memasuki masa kepunahan, kalau tidak dikatakan punah, paling tidak keberadaannya pun antara ada dan tiada.

Jika kita menyaksikan perjalanan TPA/TPQ ini hari ini, mungkin anda hanya bisa prihatin dan meratapi nasib, bagaimana tidak? Dari sisi pengajarnya tidak punya kualitas dan hanya bermodalkan keikhlasan, kalau diberi subsidi yang pantas (sebagai bentuk penghormatan pada para pengajar Al Quran) dikritisi habis-habisan, manajemen TPA/TPQ amburadul, jumlah santri/wati hampir satu kampung, sedangkan pengajarnya hanya segelitir orang saja, miskin dana (sebab pengurus masjid sangat pelit mengelurkan dana untuk TPA/TPQ) dan lain sebagiannya. Walhasil, tidak ada yang bisa membuat kita bangga dari perjalanan TPA/TPQ saat ini. Bagaimana kita akan bangga, kalau hampir seluruh perangkat pembelajaran di TPA/TPQ masih compang-camping alias amburadul ? Inilah kenyataan TPA/TPQ di masjid kita hari ini, kalau pun ada TPA/TPQ yang masih bisa berjalan, berjalannya pun antara hidup dan mati, sedangkan  TPA/TPQ yang mati dan tinggal nama, tak terhitung jumlahnya.

Mungkin kita bertanya, mengapa TPA/TPQ masjid tidak terurus dengan baik, bahkan mati ? Padahal, namanya dana masjid sangat melimpah, belum lagi jika dibandingkan bagaimana semangatnya kita merayakan hari raya, menyambut Ramadhan, memberikan berbagai santunan,  pembagian sembako dll,kita begitu ringannya mengeluarkan infaq, kita begitu peduli, ide dan gagasan kita begitu cemerlang, bahkan kita rela menyambutnya dengan sangat antusias dan meriah, tapi jika kita dihadapkan dengan persoalan TPA/TPQ, seakan-akan potensi kita mati, dana kita susah keluar, pembahasan tentang TPA/TPQ tidak pernah membuahkan hasil dan kemanjuan, mengapa ?Jawabannya hanya satu TIDAK PEDULI.

Membangun kepedulian terhadap TPA/TPQ memang tidaklah mudah. Maka wajar jika dilapangan kita jumpai amat sedikit sekali pengurus masjid hari ini yang peduli terhadap TPA/TPQ. Untuk itu, jika kepedulian itu ada, saya amat yakin TPA/TPQ tidak akan amburadul atau bahkan mati, sebab TPA/TPQ adalah satu-satunya wadah pengajaran Al Qur’an untuk anak-anak, yang orang tuanya tidak mampu mendatangkan pengajar Al Quran. TPA/TPQ adalah harapan satu-satunya orang tua yang tidak mampu mengajarkan sendiri Al Qur’an, sedangkan dirinya pun tak mampu pula menyekolahkan anaknya di pondok atau sekolah Full day school. Harapannya para orang tua yang minim ilmu dan dana, hanya pada TPA/TPQ.

Melihat kenyataan di atas  seharusnya TPA/TPQ menjadi program unggulan masjid hari ini, tidak malah menjadi anak tiri di masjidnya sendiri. Tidak ada yang paling utama, yang pantas dilakukan masjid kecuali membina generasi Islam, baik tingkat dasar maupun menengah, sedangkan aktivitas lainnya seharusnya bersifat penunjang/tambahan semata.

TPA/TPQ butuh kepedulian dan pengorbanan kita, sebab membina generasi tidak cukup hanya hitungan hari atau bulan semata, tapi membutuhkan waktu yang lama, yang berselimutkan kesabaran dan keistiqomahan.

TPA/TPQ, siapa yang peduli denganmu ? Inilah barangkali jeritan TPA/TPQ hari ini, jeritan puluhan bahkan ratusan anak yang mengharap pada kita untuk dibekali Al Qur’an. Jeritan anak yang menangis untuk bisa ikut TPA/TPQ. Tapi, jeritan dan tangisan itu pun kini hanya tinggal kenangan, sebab banyak masjid hari ini yang tak berdaya jika dihadapkan dengan persoalan TPA/TPQ, banyak pengurus masjid hari ini yang tertidur pulas tak peduli dengan TPA/TPQ, banyak pengurus masjid saat ini, yang buta akan nasib TPA/TPQ. Malah justru, pengurus masjid saat ini, lebih peduli dengan membangun/menghias masjid semata, menambah sarana dan prasarana masjid, membuat kegiatan yang glamor, yang menghabiskan dana jutaan rupiah. Tapi kebanyakkan mereka tidak peduli dengan TPA/TPQ.

Seharusnya pengurus masjid malu, jika TPA/TPQ saja tidak berjalan dengan baik/mati. Karena TPA/TPQ adalah inti kegiatan masjid, tanpa generasi yang pandai membaca Al Qur’an, jangan harap masjid akan menemukan kemakmuran dan kemajuannya. Dan perlu kita sadari, tidak ada ucapan yang terbanyak dalam masjid, kecuali Al Qur’an. Mari kita sama-sama peduli terhadap TPA/TPQ, kalau tidak kita…lalu siapa lagi…..

Iklan

8 thoughts on “PEDULI TAMAN PENDIDIKAN AL QUR’AN

  1. asslm wrwb, tulisan ini betul2 mewakili suara hati kami yang terjun langsung di lapangan,tapi harapan perubahan selalu ada selama kita mau berusaha.

  2. Ass.

    Salam perjuangan bagi sahabat-sahabat aktivis TPQ.
    Alhamdulillah kami sudah 2 tahun lebih menganalisis tentang problem solving TPQ, khususnya di daerah Kab. Banyumas. mungkin hasil riset kami dapat memberi tambahan info untuk mengurai permasalahan TPQ di daerah lain. Berikut beberapa catatan kami :
    Kalau kita sederhanakan, masalah TPQ ada pada 3 simpul masalah besar yang melilit banyak simpul-simpul kecil. simpul tersebut adalah :

    1. Perlunya Lembaga yang fokus dan profesional.
    Saat ini sudah ada lembaga pembinaan TPQ baik dari pemerintah maupun dari LSM dan LAZ. sayangnya lembaga-lembaga ini masih belum fokus dan profesional. maksudnya, kita lihat hampir semua fungsionaris dan penggeraknya adalah orang yang sibuk dan separuh tenaga mengurus TPQ serta koordinasinyapun hanya sekedar saat-saat akan ad kegiatan bersama. Melihat permasalah ini, tentunya kita perlu membentuk lembaga Pembinaan dan Pelestarian TPQ yang di profesionalkan (di gaji) bahwa sehari-hari orang-orang tersebut fokus mengurusi maslah TPQ baik secara Konsultatif, Koordinatif dan Operatif dalam lingkup area tertentu misal tiap kabupaten.
    Maaf, kalau kita ibaratkan mengurus WC umum aja perlu ada orang yang fokus dan perlu managemen, apalagi mengurus “Pabrik-pabrik Penghasil Generasi Qur’an Sejak dini” yang dampaknya pada masa depan Islam dan Bangs Indonesia. Masa mau nda ada yang mikirin…..

    2. Solusi Sistem Yang Konstruktif
    Setelah ada lembaganya tentunya paradigma solusi yang di lakukan bukan hanya sekedar memberi ikan, melainkan memberi kail dan melatih memancing. Perlu adanya diskusi bersama dan riset-riset untuk menghasilkan solusi ini. Karena setiap daerah berbeda permasalahannya dan kultur budayanya. Salah satu hasil aplikasi kami adalah managemen KBM, Kurikulum, konsep internal dan external. untuk hal ini perlu diskusi lama. Intinya kalau kita ibaratkan TPQ sebuah kendaraan yang mengantarkan anak-anak menjadi generasi Qur’ani ada 4 komponen internal dan 3 komponen external.
    4 komponen internal antara lain: 1. Mesin. Mesin mobil TPQ adalah perumpamaan dari managemen TPQ. Kalau managemennya masih belum terkonsep baik ya ibarat fisik mobil tapi mesin motor, nda bisa jalan dengan baik. 2. Oli. Perumpamaan dari sarana prasarana. Misal buku-buku materi, bangku papan tulis dll. Yang mendukung proses KBM juga memberikan pandangan kepada masyarakat bahwa TPQ di kelola dengan tersistem. 3. Bensin/BBM. Perumpamaan ustadz/ah. Bila tidak ada bensin mobil ngga bisa jalan. Permaslah bensin ini terkait kuantitas dan kualitas. Tapi minimal kita cari yang mau dulu trs kita bina biar mampu. Solusi pengadaan ustadz/ah dapat kita kerjasamakan dengan pondok pesantren atau mahasiswa. Alahamdulillah di Banyumas sudah jalan. 4. Penumpang. Perumpamaan santri (anak-anak). Bagaimana biar penumpangnya banyak dan istiqomah tentunya kita butuh “Calo” penumpang. Solusi ini bisa dengan program Desa santri dan TPQ Goes To school.
    Untuk 3 komponen external, adalah 1. Pemerintah (Desa dll) perlu kita rangkul dalam program bersama (Desa Santri). 2. Sekolah SD (TPQ Goes To School). 3. Donatur (GOTA TPQ /Gerakan Orang Tua Asuh TPQ)
    Supaya solusi konstruktif lebih sempurna, tentunya penjenjangan TPQ harus berkelanjutan, syukur bisa 18 tingkat (kurikulum 18 tahun). Insya Allah sistem ini akan melahirkan Masyarakat Qurani seutuhnya. Sehingga ke depan tidak akan ada lagi kekurangan pengajar TPQ karena terus berotasi.

    3. Financial Konsep.
    UUD (Ujung-Ujungnya Duit) tanpa dana, lembaga yang fokus dan profesional yang bekerja membangun sistem yang konstruktif akan sulit jalan. Untuk itu pemetaannya ada 4 sumber Financial konsep. Antara lain :
    1. Kemandirian Usaha. Lembaga yang fokus dan profesional harus bisa mandiri secara financial ytaitu melalui badan usaha yang memasarkan produk sarana pra sarana.
    2. Masyarakat/ donator. Dengan Program GOTA TPQ (Gerakan Orang Tua Asuh TPQ)
    3. Pemerintah. Dana ini bisa di ambil dari APBD (dengan perda) tapi solusi ini masih butuh political Will dari pemerintah (Bupati,Gubernur,DPRD)
    4. Internal Komunitas. Bisa dengan koperasi aktifis TPQ. Cuma solusi ini dapat dilakukan akhir setelah minimal solusi no 1 dan 2 telah berjalan.

    Kami rasa cukup sekian dulu info dari kami, walaupun masih banyak hal yang belum dijelaskan terkait hal-hal teknis pelaksanaan dan lain-lain. Mungkin kalau ad kesempatan kita bisa berdiskusi action real dan memberikan solusi pada TPQ di seluruh Indonesia yang bermasalah.
    Hal-hal yang kami sampaikan di atas sudah kami lakukan selama 2 tahun lebih dengan hasil-hasilnya.
    Trims atas perhatiannya dan mohon maaf atas kesalahan.

    Wass.

    Ridho S. (Pimp. LSM Dompet Peduli Santri Kab. Banyumas)
    Email : sutantosnw@yahoo.com

  3. Assalamu`aaikum wr wb..
    Salam pejuang dakwah yang tak kenal lelah.. Sungguh gambaran TPA/TPQ akhir2 ya seperti itulah.. mari besama-sama mencatat sejarah islam dengan tinta emas bagaimana kita berdakwah, perduli, dan saling mengulurkan tangan..
    Semua muslim bersaudara, rapatkan barisan ukhuwah dan kita pasti bisa..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s