PERSIAPAN AWAL SEBELUM MENJADI PENGHAFAL AL QUR’AN /HAFIZH atau HAFIZHAH


Oleh :

Ustadzah Romlah Naila Hafazhah Fillah

A. Membaca Al Qur’an

Sebelum menjadi penghafal Al Qur’an seorang calon hafizh/hafizhah dituntut untuk belajar pertama kali membaca Al Qur’an yang baik dan benar sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw., Belajar membaca Al Qur’an merupakan pintu gerbang pertama kali bagi mereka yang akan menghafal sekaligus memahami Islam serta mendapatkan keutamaan dan kebaikan yang banyak di sisih Allah SWT.

Tetapi sayangnya persiapan awal ini banyak menjumpai umat Islam yang buta huruf Al Qur’an. Sehingga kita pun kesulitan untuk mengambil manfaat dari Al Qur’an itu, terkhusus lagi untuk menghafal Al Qur’an, sehingga pada akhirnya rutinitas hidup kita pun sangat jauh dari nilai-nilai yang dianjurkan dalam Al Qur’an.

Tetapi Alhamdulillah, akhir-akhir ini kita juga banyak menjumpai metode dan kiat-kiat praktis untuk bisa membaca Al Qur’an dari usia balita sampai usia manula, misalnya metode Tsaqifa, metode Al Barqi, metode An Nur dan lain-lain.

Adapun keutamaan membaca Al Qur’an. Sebagaimana yang dijelaskan Allah SWT dalam kalamNya dan Rosulullah SAW dalam haditsnya, antara lain :

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah SWT dan mendirikan sholat dan menafkahkan sebagian dari rezqi yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak merugi, Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukur(Qs. Al Faathir : 29 – 30 )

Dari Abu Musa Al – Asy’ari ra, Rosulullah SAW bersabda :

Perumpamaan orang mu’min yang selalu membaca Al Qur’an bagaikan buah utruj (lemon) baunya semerbak dan rasanya enak, dan perumpamaan orang mu’min yang jarang membaca Al Qur’an seperti buah korma, tidak ada baunya tetapi rasanya manis, dan perumpamaan orang munafik yang suka membaca Al Qur’an seperti raihanah (semacam kemangi) baunya harum tetapi rasanya pahit, sedangkan perumpamaan orang munafik yang tidak suda membaca Al Qur’an seperti buah pare, tidak ada bau dan rasanya pahit.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Dalam membaca Al Qur’an ini, seyogyangya harus sudah ditanamkan pertama kali dalam rumah tangga serorang muslim. Sehingga kita akan mendapati rumah tangga tersebut tidak jauh dari Al Qur’an.

Selain banyaknya fadhilah dan keutamaan yang kita dapatkan, dengan membaca Al Qur’an ini sekaligus sebagai syifa’ (obat) bagi hati kita yang sedang sakit maupun mati kita yang mengeras. Dengan membaca Al Qur’an Insya’ Allah hati kita akan merasa tentram.

B. Membaguskan tajwid

Setelah mampu membaca dengan lancar, aktivitas yang harus dijalani sebagai calon penghafal Al Qur’an yakni membaguskan tajwid. Hal ini dilakukan mengingat banyak dijumpainya kesalahan dalam membaca, sehingga kesalahan baca ini berakibat berubahnya makna atau arti yang terkandung dalam Al Qur’an ini.

Oleh karena itu hendaklah setiap muslim segera mempelajari ilmu nahwu dan kaidah-kaidah I’rab karena merupakan kunci untuk memahami kitabullah dan meluruskan bacaan tilawahnya. Juga untuk meluruskan pengucapan agar selamat dari kesalahan.

Abu Mazahim Al Khaqani berkata :

Wahai pembaca AlQur’an, perbaguslah membacanya

Niscaya Allah melipat gandakan pahala bagimu.

Tidak semua yang membaca Al Kitab berlaku lurus

Dan tidak setiap orang yang membacakan kepada manusia adalah pembaca

Ilmu Al Qur’an pertama adalah cermat menjaganya dan mengetahui kekeliruan bila kesalahan terjadi

Jadilah orang yang mengerti tentang kesalahan cara mengucapkan apa saja yang engkau tak mengerti.

Tak ada alasan bagi orang yang tak mengerti

C. Menghafal Al – Qur’an

Aktivitas selanjutnya setelah lancar membaca dan membaguskan bacaan adalah menghafal sedikit demi sedikit ayat-ayat Al Qur’an dan mengadakan pengulangan terus agar hafalan yang sudah teraih tidak hilang. Disamping itu agar hafalan yang sudah diraih semakin kuat dalam memory kita.

D. Setoran hafalan pada pembimbing tahfizh

Setoran hafalan pada pembimbing tahfizh ini sesungguhnya kaidah baku sejak zaman Rosulullah SAW. Bahwa Al Qur’an diambil dengan cara talaqqi, belajar dari mulut ulama yang pakar tentang lafadz-lafadznya, sehingga seorang murid tidak terjerumus dalam kekeliruan membaca atau mengucapkan sebagian lafadz-lafadz Al Qur’anul Karim serta kesalahan mengucapkan kesalahan kata-kata Al Qur’an tanpa mengetahuinya. Mereka mengatakan :”Musibah yang paling besar adalah menggangap lembaran – lembaran tulisan sebagai guru.”

Iman Al Hasan bin Abdullah Al Askariy (wafat tahun 382) mengarang buku yang mengecam tashhif. Tashif adalah kesalahan dalam lafadz yang menyebabkan salah dalam makna dan keluar dari belajarnya seorang murid tentang Al Qur’an dari mushaf/tulisan tanpa mendengar langsung dari mulut seseorang.”

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s