PRINSIP DAN MOTIVASI YANG HARUS DIBANGUN SEBELUM MEMPELAJARI DAN MENDALAMI AL QUR’AN


Oleh :

Ustadzah Romlah Naila Hafazhah Fillah

(Pengasuh/Direktur Utama Ma’had Tahfizhul Qur’an “KHOIROTUNHISAN”

Khusus Muslimah & Khoirotunhisan Center)

Meraih keberhasilan dan kesuksesan itu ternyata tidaklah mudah, apalagi yang ingin kita pelajari dan kita dalami adalah Al Qur’an. Tidak cukup orang hanya bermodalkan semangat semata, tetapi banyak faktor penunjang yang perlu untuk dibangun dan dipersiapkan sejak dini. Untuk itu ijinkan saya berbagi pengalaman dan sedikit memberikan nasehat bagaimana seharusnya kita mempelajari dan mendalami Al Qur’an. Pemaparan ini saya ambil dari perjalanan saya menjaga dan mempertahankan hafalan Al Qur’an selama ini. Saya memandang ini perlu saya sampaikan kepada seluruh kaum muslimin, khususnya para muslimah karena pada takaran realita, ternyata tidak mudah membangun cita-cita untuk mempelajari dan mendalami Al Qur’an sepanjang hayat. Lalu apa kira-kira yang perlu kita persipakan sebelum, saat dan setelah mempelajari dan mendalami Al Qur’an?

A. LURUSKAN NIAT IKHLAS SEMATA-MATA KARENA ALLAH SWT

Modal pertama yang anda harus persiapkan adalah niat yang ikhlas semata-mata karena Allah Swt. Karena niat inilah yang menentukan nilai dari setiap aktivitas yang ada jalani. Baik dari anda mempersiapkan diri akan belajar ke ma’had, pada saat anda belajar, kelelahan dan kepenatan selama belajar serta berbagai aktivitas lainnya, selama niatnya baik maka semua itu akan dinilai sebagai ibadah. Tetapi lainnya halnya, jika anda tidak mengikhlaskan diri karena Allah Swt, maka sesungguhnya anda belajar di ma’had atau di tempat manapun anda tetap akan rugi. Tidak ada manfaat yang bisa didapatkan dari orang-orang yang tidak ikhlas ini, sekalipun barangkali dia datang terus pada saat belajar, bahkan datangnya pun paling awal sebelum yang lainnya. Tetapi perlu di ingat kelelahan dan kepenatan selama mengikuti proses belajar mengajar, dana yang sudah dikeluarkan ternyata tidak memberikan manfaat sama sekali bagi dirinya, naudzubillahi min dzalik.

Tidak hanya itu, adanya orang-orang yang tidak ikhlas belajar mempelajari dan mendalami Al Qur’an akan banyak menimbulkan masalah, sadar ataupun tidak sadar adanya orang yang tidak ikhlas ini akan banyak menganggu proses belajar yang tengah berjalan, reaksinya mungkin saja banyak berkeluh dengan hal-hal yang bersifat materi (sementara keluhannya tidak wajar dan lazim), seringkali tidak merasakan kepuasan, tidak menghargai ilmu, menimbulkan banyak fitnah yang tidak jelas asalnya. Semua itu terjadi barangkali tanpa disadarinya, padahal urusan menjaga dan mempertahankan Al Qur’an ini bukanlah hal yang mudah untuk dijalani.

B. HORMATI & MULIAKANLAH AHLI ILMU

Mempelajari dan mendalami Al Qur’an ini memang ilmu yang sangat unik, saya katakan unik karena untuk bisa mempelajari dan mendalami Al Qur’an dibutuhkan kesadaran yang tinggi bagi orang yang mau menimba ilmu tersebut. Maka, dari adanya kesadaran yang tinggi ini tentunya sangat mengharuskan baginya untuk mencari dan mencari terus untuk ilmu Al Qur’an. Jangan heran, kalau orang-orang yang berhasil mempelajari dan mendalami Al Qur’an ini orang-orang yang secara suka rela dan berani berjuang untuk datang dan menemui sumber ilmu Al Qur’an, rasanya saya belum pernah menjumpai orang yang belajar Al Qur’an ini berhasil sementara dia tidak berusaha mendatangi ustadz/ ustadzahnya.

Kalau anda ingin berhasil mempelajari dan mendalami Al Qur’an, maka prinsip yang harus ada bangun yakni jangan sekali-kali menyuruh ustadz/ustadzah datang ke tempat anda, walaupun anda mampu anda dari sisi materi dan cukup punya kemampuan finansial guna memenuhi kebutuhan ustadz/ustadzah tersebut. Coba mari kita renungkan sejenak, kira-kira siapa yang sesungguhnya yang paling butuh dengan bekal-bekal Al Qur’an tersebut? Kita atau ustadzah yang mengajari kita? Maka mulai sekarang bangun prinsip menghormati dan memuliakan ahlul Qur’an. Anda harus membuang jauh-jauh perasaan malu, merasa lebih pintar, lebih tua ataupun lebih kaya dari ustadzah kita, hormati dan muliakanlah orang yang memiliki ilmu dengan cara belajar mendatanginya untuk menimba ilmu dan nasehat, sekalipun ustdzah kita sebenarnya tidak ingin dihormati, tetapi kita tetap harus mengerti pentingnya memuliakan orang yang berilmu.

C. JANGAN TERLALU PELIT DENGAN DANA KALAU ITU UNTUK MENCARI ILMU

Jangan terlalu pelit untuk mengeluarkan dana sementara anda sedang belajar Al Qur’an. Belajar dan mendalami Al Qur’an tidaklah sama jika dibandingkan dengan mempelajari disiplin ilmu lainnya. Orang-orang yang berhasil mempelajari dan mendalami Al Qur’an adalah orang yang sangat sadar akan pentingnya bekal Al Qur’an. Pada saat anda belajar dan memperdalam Al Qur’an dengan mengeluarkan dana untuk meraihnya, maka anda harus berpegang pada beberapa prinsip dan kepercayaan, antara lain:

a) Jangan sekali-kali berkata mahal untuk mendapatkan ilmu Al Qur’an, sementara disisi yang lain ternyata anda punya cukup kemampuan finansial, misalnya membeli prabot rumah tangga, kuliah atau sekolah dll, ada baiknya jika anda mulia sekarang memprioritaskan dulu dana anda untuk mempelajari dan mendalami Al Qur’an sampai berhasil sebagaimana target anda, kemudian baru berpikir lainnya.

b) Kalau anda mengalami kesulitan dengan dana, seyogyanya anda perlu berusaha terlebih dahulu sampai maksimal untuk mencari dana agar anda mampu mengikuti pelajaran Al Qur’an

c) Kalau anda sudah berusaha maksimal ternyata tetap saja tidak mampu mendapatkan dana, sementara anda sangat berharap belajar terus mempelajari dan mendalami Al Qur’an, maka jangan malu untuk minta keringanan biaya dan minta belajar secara gratis pada lembaga di mana anda belajar dan mendalami Al Qur’an.

D. BANGUN RASA “IRI YANG BAIK” TERHADAP AHLUL QUR’AN

Bangun dalam pribadi kita rasa “iri yang baik” terhadap orangorang yang memiliki ilmu, khususnya Al Qur’an. Anda harus menumbuh suburkan perasaan iri ini terhadap ahlul Qur’an. Misalnya: Anda yang tidak mampu baca Al Qur’an, maka anda harus iri terhadap orang yang sudah bisa membaca Al Qur’an, bagi anda yang sudah bisa membaca tapi bacaan banyak yang salah, maka anda harus iri terhadap orang atau teman anda yang bacaan Al Qur’annya baik dan sesuai dengan kaidah bacaan yang benar. Adapun orang yang sudah memiliki bacaan yang baik dan benar, yakni sesuai dengan kaidah membaca Al Qur’an, sudah sepantasnya jika anda iri terhadap para hafizhah (Penghafal Al Qur’an) dan seterusnya.

Intinya, bahwa perasaan iri ini akan baik jika:

a. Menumbuhkan semangat untuk belajar dan ingin seperti orang yang kita irikan tersebut.

b. Iri ini tidak boleh diringi dengan fitnahan dan hasutan yang menyelakakan/ merugikan orang yang kita irikan tadi.

E. JANGAN TERLALU MENUNTUT DENGAN HAL YANG BERSIFAT MATERI KALAU DARI SISI ILMU SANGAT MEMBERI MANFAAT BAGI KITA

Ada dua hal yang sejak manusia dicintakan sampai akhir hayat tidak menjadikan diri manusia bisa puas menerimanya, yakni ILMU & HARTA. Seberapa pun ilmu yang dia dapatkan dan berapa banyak khazanah ilmu di dunia ini yang sudah diraihnya, maka manusia itu akan semakin kurang untuk mendapatkannya. Begitu pula dengan harta yang dimiliki manusia, tidak akan menjadikan manusia puas untuk menerimanya.

Kedua hal tersebut memiliki kesamaan, yakni sama-sama tidak mampu memuaskan hasrat manusia. Lalu apa bedanya? Ada perbedaan yang cukup mendasar, yakni ketidakpuasan terhadap Ilmu itu sangat dianjurkan, bahkan ini merupakan keharusan bagi orang yang sedang cinta mempelajari dan mendalami Al Qur’an. Sedangkan ketidakpuasan terhadap hal yang sifatnya materi, islam sangat melarangnya bahkan cenderung untuk diminimalkan.

Maka, untuk menuju puncak keberhasilan mempelajari dan mendalami Al Qur’an paling tidak anda harus merasa haus akan ilmu dan jangan terlalu menuntut yang bersifat materi, kalau dari sisi ilmu sudah memberikan manfaat banyak bagi anda. Dan tak kalah pentingnya anda harus menyakini bahwa tempat dan sarana prasana belajar itu hanya wasilah semata untuk menghantarkan kita meraih kesuksesan, disamping itu sarana dan prasarana penunjang pasti akan terus ditingkatkan bagi lembaga yang menyelenggarakan proses pendidikan, maka berhusnudzanlah, lihatlah dari sisi kualitas keilmuannya.

F. SENANTIASA MENGEDEPANKAN TABAYYUN KAITANNYA DENGAN PROSES BELAJAR MENGAJAR

Ada saja gangguan dan hambatan bagi orang yang belajar mendalami Al Qur’an. Maka hendaklah setiap elemen yang sedang menjalani proses belajar, yakni ustadz/ustadzahnya dengan para santriwati/mahasiswi ini senantiasa menjaga iklim yang baik selama menuntut ilmu, apalagi ilmu yang sedang dipelajari adalah ilmu Al Qur’an. Jangan sampai hubungan baik antara pengajar dan murid ini terganggu dengan berbagai masalah yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan proses belajar mengajar yang sedang dijalani. Maka manakala muncul adanya masalah yang kira-kira akan menganggu proses belajar mengajar, sudah sepantasnya jika saling tabayyun untuk minta penjelasan langsung.

G. BERSABAR & BERISTIQOMAHLAH

Sabar ini kunci yang saya pandang amat penting dipegang oleh siapapun yang sedang belajar, terutama bersabar terhadap ustadz/ustadzah yang memberikan ilmu pada kita, terhadap metode pendekatannya mengajar, watak dan karakternya dll. Kita harus berprasangka baik bahwa semua itu demi kebaikan kita.

Anda harus juga memahami bahwa sabar itu bukanlah amalan lisan tetapi amalan hati. Maknanya, ketika kita berkata “sabar” untuk menunjukan bentuk kesabaran kita, maka sesungguhnya kita saat itu termasuk orang-orang yang tidak sabar. Adapun sikap yang baik yakni: berdiam dan terus berjuang untuk mempelajari dan mendalami Al Qur’an bagaimana pun resiko dan pengorbanannya.

Penting untuk anda renungkan juga, bahwa bersabar kita terhadap pilihan atau jalan perjuangan yang kita tempuh untuk mempelajari dan mendalami Al Qur’an ini memiliki nilai yang lebih dari pada kesabaran yang muncul karena keterpaksaan.

H. BUANGLAH RASA MALU

Perasaan malu adalah sesungguhnya sumber kegagalan dalam mempelajari dan mendalami Al Qur’an. Perasaan malu ini biasanya menghinggapi orang-orang tua, orang yang strara ekonominya mapan atau orang yang terpandang di masyarakat. Misalnya orang tua malu belajar dengan orang-orang muda, orang yang ekonominya mampu malu untuk belajar dengan orang ekonominya pas-pasan, tokoh masyarakat malu belajar dengan orang biasa dll. Maka, kalau anda ingin tidak berhasil dalam belajar dan mendalami Al Qur’an, hendaklah anda pelihara rasa malu ini, pasti anda akan menjadi orang-orang jumud dan orang yang tidak akan memiliki bekal-bekal Al Qur’an. Apakah ini yang anda harapkan ?

I. JANGAN BELAJAR AL QUR’AN SECARA OTODIDAK (BELAJAR SENDIRI)

Jangan bermimpi bisa berhasil belajar Al Qur’an secara otodidak, bermimpi pun jangan apalagi anda melakukannya dalam alam realita. Mengapa Al Qur’an tidak bisa dipelajari secara otodidak? Barangkali kalau hanya sekedar tahu dan mengerti saja mungkin bisa dilakukan, tapi kalau sampai pada tingkatan benar menurut kaidah bacaan Al Qur’an, maka dia tidak akan pernah mampu mencapai kebenaran dengan belajar secara otodidak.

Inilah sesungguhnya karateristik, keunikan dan kemujizatan Al Qur’an yang diturunkan Allah Swt kepada Rosulullah Saw melalui malaikat Jibril. Maka, setiap muslim/muslimah yang berazzam untuk mempelajari dan mendalami dituntut keharusan adanya seorang ustadz/ustadzah. Jadi orang yang berkeinginan mempelajari dan mendalami Al Qur’an ini paling harus memahami bagaimana belajar Al Qur’an tersebut:

a. Mempelajari Al Qur’an harus dengan talaqqi, yakni metode mempelajari Al Qur’an secara langsung dengan ustadz/ustadzah.

b. Metode talaqqi ini adalah metode yang lazim dilakukan para salafus sholeh terdahulu yang cinta ilmu dan keutamaan.

c. Belajar secara otodidak, khususnya Al Qur’an tidak pernah dikenal oleh para sabahat, tabi’in, para tabiut tabi’in serta para ulama yang lurus aqidah dan amalannya.

Maka, dari penjelasan ini anda harus membuang jauh-jauh pemahaman bahwa mempelajari dan mendalami Al Qur’an bisa dilakukan secara otodidak, kemudian merujuk kepada para para salafus sholeh bagaimana mereka menuntut ilmu untuk mendapatkan hikmah dan keutamaan di dunia maupun di akhirat.

J. BANGUN PRINSIP TIDAK ADA ISTILAH TERLAMBAT BAGI ORANG YANG INGIN MEMPELAJARI & MENDALAMI AL QUR’AN

Tidak ada istilah terlambat, prinsip ini harus ada bagi orang-orang yang merasa dirinya tertinggal dalam mempelajari Al Qur’an. Prinsip ini walaupun pengaruhnya tidak sama antara satu orang dengan lainnya, paling tidak prinsip ini akan sangat berguna untuk memberikan dorongan kuat untuk mempelajari dan mendalami Al Qur’an. Kalau anda selama ini merasa tertinggal maka prinsip “tidak ada istilah terlambat” ini harus anda kedepankan niscaya anda akan berhasil. Dan jangan sampai ada yang merasa terlambat mempelajari dan mendalami Al Qur’an ini berdiam diri seraya menunggu keajaiban.

Iklan

Satu pemikiran pada “PRINSIP DAN MOTIVASI YANG HARUS DIBANGUN SEBELUM MEMPELAJARI DAN MENDALAMI AL QUR’AN

  1. good

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s