PENTINGNYA BEKAL – BEKAL AL QUR’AN BAGI SETIAP MUSLIMAH


Oleh:

Ustadzah Romlah Naila Hafazhah Fillah

Pengasuh/Direktur Utama Ma’had Tahfizhul Qur’an “KHOIROTUNHISAN” Khusus Muslimah

& Khoirotunhisan Center

“Tidak ada istilah rugi bagi orang yang ingin mendalami Al Qur’an”, barangkali ini istilah yang menurut saya sangat tepat diperuntukan bagi orang-orang yang memiliki semangat, motivasi dan perjuangan untuk bisa mempelajari dan mendalami Al Qur’an.

Kalau kita menyadari sesungguhnya mempelajari dan mendalami Al Qur’an bagi muslimah merupakan investasi jangka panjang bagi dirinya, keluarga dan anak-anaknya kelak. Dan tentunya investasi ini tidak akan pernah merugi, sebab investasi ini masih akan kita dapatkan nanti ketika ruh sudah meninggalkan jasad kita. Tapi lain halnya jika kita berinvestasi dalam urusan perniagaan dan perdagangan dunia, entah itu namanya jual beli, jasa, layanan masyarakat dan lain sebagainya, investasi tersebut kemungkinan mengalami kerugian sangat besar, bahkan bisa jadi akan mengalami pailit. Kalau demikian halnya kira-kira mana yang anda akan pilih? Tentu saya amat yakin bahwa muslimah yang berpikiran ke depan sudah pasti akan memilih dan berjuang untuk mendapatkan bekal-bekal Al Qur’an, karena manfaatnya tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Sekalipun investasi dari usaha kita mempelajari dan mendalami Al Qur’an ini tidak akan pernah rugi, bahkan Allah Swt memberikan banyak barokah dan kenikmatan yang luar biasa dari aktivitas kita mempelajari dan mendalami Al Qur’an. Tapi sayang, sungguh amat disayangkan teramat sedikit sekali dari kaum muslimin saat ini, khususnya para muslimahnya yang bersedia merelakan dirinya menggadaikan waktu dan kehidupannya untuk mempelajari dan mendalami Al Qur’an.

Kebanyakan dari mereka tersibukkan dengan berbagai urusan dunia lainnya, sampai-sampai bekal Al Qur’an yang seharusnya dimilikinya sejak awal –sebelum menggeluti bidang keahlian yang lain– tidak pernah menyatu dalam pribadinya. Bagaimana bisa menyatu dalam dirinya, sementara tidak ada usaha nyata darinya untuk mendalami Al Qur’an? Maka jangan heran, banyak kita dapati muslimah yang tidak bisa sama sekali membaca Al Qur’an, atau kalaupun mampu pasti bacaan Qur’an amburadul (alias tidak sesuai dengan kaidah membaca Al Qur’an yang benar), apalagi yang mampu menghafal Al Qur’an sampai mengkhtamkan 30 juz, teramat sedikit kita saksikan saat ini. Inikah gambaran muslimah kita, yang dipundaknya diamanahkan generasi Islam masa depan?

Saya berani katakan, tidak pernah rugi bagi muslimah yang mempelajari dan mendalami Al Qur’an, gambaran ini akan tampak nyata manakala seorang muslimah sudah dihadapkan dengan PENDIDIKAN DINI UNTUK ANAK-ANAK mereka. Bagi seorang muslimah yang tidak mampu membaca Al Qur’an sama sekali, kira-kira dari mana dirinya bisa mengajarkan Al Qur’an pada anak mereka? Sedangkan bagi muslimah yang tidak mampu membaca Al Qur’an dengan benar, dari sisi mana dirinya akan membekali anak-anaknya? Paling-paling yang dimampui orang tua tersebut adalah dari sisi dana semata, karena memang pada kenyataannya dirinya tidak mampu membekali anak-anaknya dengan bekal–bekal Al Qur’an, ini pun kalau dirinya cukup memiliki harta untuk mendidik anaknya dengan bekal-bekal Al Qur’an, tapi kalau tidak apa yang bisa di lakukan orang tua tersebut? Padahal bekal Al Qur’an adalah bekal yang paling asasi yang harus dimiliki oleh anak-anak kita nanti? Terus, bagaimana dirinya mampu membekali anaknya, membekali dirinya saja belum tentu mampu, karena mempelajari dan mendalami Al Qur’an tidak bisa dipelajari belajar secara otodidak (belajar sendiri).

Maka saya katakan rugi, sungguh amat rugi bagi calon ibu rumah tangga atau ibu-ibu yang sudah memiliki amanah anak tidak mau membekali dirinya dengan bekal–belal Al Qur’an. Apakah anda tidak ingin jika bekal utama anak-anak kita nanti, yakni bekal-bekal Al Qur’an adalah hasil jerih payah anda sebagai orang tua dan bukan jerih payah orang lain?

Adapun bagi anda yang sudah menyadari pentingnya bekal – bekal Al Qur’an bagi generasi kita nanti, jangan malas untuk terus berjuang. Saya katakan anda adalah muslimah yang lebih maju untuk menggapai kesuksesan masa depan, jika dibandingkan muslimah yang enggan belajar –karena malu atau gengsi semata –, mengapa saya katakan maju? Jika anda seorang muslimah yang memiliki bacaan Al Qur’an yang bagus dan benar menurut kaidah bacaan Al Qur’an, bahkan memiliki hafalan Al Qur’an beberapa juz, maka sesungguhnya anda adalah muslimah paling siap mendidik anak anda sendiri, sebab paling tidak anda tidak lagi berpikir tentang bekal–bekal Al Qur’an pada anak anda nanti, karena bekal tersebut sesungguhnya ada pada diri anda. Tinggal bagaimana cara dan metode kita mentranfer kepada anak-anak kita nanti dan saya amat yakin masing-masing orang tua memiliki kiat sendiri dalam mentranfer ilmu Al Qur’an pada buah hatinya.

Maka kalau anda seorang calon ibu atau seorang ibu yang sedang giat belajar, kesungguhan, perjuangan dan pengorbanan anda dalam mempelajari dan mendalami Al Qur’an adalah investasi ke depan pendidikan anak anda, jangan mudah menyerah dengan berbagai gunjingan dan cemoohan. Karena orang yang senantiasa menggendorkan semangat orang yang belajar itu, hanya mampu kita sadarkan dengan bukti kesuksesan dan keberhasilan, sementara itu orang yang bisanya hanya ngomong dan melemahkan semangat anda belajar dan mendalami Al Qur’an setiap waktu hanya berperan sebagai penonton yang tidak memiliki prestasi. Muslimah seperti ini barangkali bisanya hanya terkejut, ketika menjumpai ada seorang ibu-ibu yang sudah memiliki banyak anak atau bahkan sudah nenek belajar Al Qur’an bersama-sama yang lebih muda diapun terkejut, kemudian berkomentar: “Sudah tua saja masih ingin belajar.” Atau “Teganya dia menelantarkan anak dan suaminya, hanya karena ingin belajar Al Qur’an.” dan masih banyak komentar lainnya. Begitu pula ketika ada muslimah sukses membangun cita-citanya, diapun terkejut lagi. Wal hasil kehidupannya hanya bisa terkejut menyaksikan orang lain berkembang dan sukses membangun cita-citanya, sementara dirinya seperti kata dalam tempurung dan sibuk memikirkan orang lain, “maklumlah” karena dia muslimah yang tidak memiliki cita-cita, sehingga waktunya hanya berpikir tentang dirinya dan mencari-cari keburukkan orang lain, terlebih lagi keburukkan orang yang sedang semangat-semangatnya mempelajari dan mendalami Al Qur’an.

Wahai muslimah, ingatlah bahwa ini bekal Al Qur’an, bekal yang paling asasi untuk kita kenalkan pada anak kita nanti sebelum bekal lainnya. Silahkan didik anak anda untuk menjadi seorang dokter, insiyur, pengusaha dll, tapi sudahkan anak anda, anda bekali dengan bekal Al Qur’an? Apakah anda saat ini sudah merasa menjadi seorang ibu yang memiliki jasa yang besar pada anak anda nanti, sementara anda tidak pernah mengenalkan anak anda dengan Al Qur’an? Kalau anda adalah seorang ibu yang pernah kuliah dijurusan ekonomi misalnya, kemudian anda memiliki anak, kira-kira umur berapa anda akan mengajarkan ilmu yang selama ini anda geluti kepada anak anda ? Yang paling memungkinkan sekali anda akan mengajarkan ilmu tersebut ketika anak anda sudah lulus SMU bukan ? Itupun kalau ilmu yang ada pelajari waktu kuliah tidak mengamali perubahan, lalu bagaimana jika ternyata mengalami perubahan karena dianggap sudah usang? Lalu untuk apa seorang muslimah belajar dengan dalil kewajiban menuntut ilmu, sementara kurang bermanfaat bagi anak-anaknya dan keluarganya nanti ? Sementara dirinya juga tidak memiliki azzam dan keinginan menpelajari dan mendalami Islam, khususnya Al Qur’an? Inilah sesungguhnya telak perbedaan pendidikan yang diterapkan islam dengan pendidikan barat yang cenderung liberal.

Namun lain halnya jika anda mempelajari dan mendalami Al Qur’an atau disela-sela kesibukkan anda saat ini tetap berusaha dan berjuang sekuat kemampuan untuk mempelajari dan mendalami Al Qur’an. Anda bisa langsung mengajarkan Al Qur’an ini pada anak anda sejak usia dini bahkan sejak dalam kandungan dan tidak perlu repot-repot mecarikan pengajar untuk les privat bacaan Al Qur’an dan menyiapkan dana tambahan untuk membiayai pengajar tersebut, karena ilmu itu ada dalam diri ibudanya yang tercinta, yakni anda sendiri. Apakah anda tidak bangga ?

Jangan ragu untuk terus berjuang, anda termasuk muslimah yang berpikir cerdas dalam melihat masa depan. Jadilah muslimah yang senantiasa berpikir tentang gagasan, dan bukan muslimah yang hanya senang membicarakan aib atau prestasi orang lain, sementara prestasi dirinya nol besar. Buatlah anak-anak anda nanti bangga pada ibunya dan suami anda bangga pada anda, karena memamg anda muslimah yang memang patut untuk dibanggakan. Kebanggaan mereka pada anda bukan karena anda pintar dan menarik, tetapi bangga karena anda mampu menjadi pengajar dan pembimbing anak anda untuk mempelajari Al Qur’an, mampu menyinari rumah mungil anda dengan sinar Al Qur’an.

Masihkah anda tidak yakin, bahwa anda adalah muslimah yang beruntung karena telah disadarkan dan diberikan kemudahan hati oleh Allah Swt untuk mempelajari Al Qur’an ? Ingat, banyak sekali muslimah yang ingin bisa belajar seperti anda, tetapi banyak kendala yang menghalanginya, entah karena tidak ada waktu atau karena tidak adanya pembimbing yang mampu mengajarkan Al Qur’an. Maka, mumpung waktu dan kesempatan ini berpihak pada diri anda jangan sia-siakan dan tidak kalah pentingnya juga, yakni ada yang membimbing anda untuk bisa belajar.

Sedangkan bagi para muslimah yang tidak memiliki bekal-bekal Al Qur’an –karena malas untuk belajar, karena gengsi untuk belajar atau karena tidak mau berjerih payah untuk mendapatkan bekal Al Qur’an tersebut– paling akan memulai pendidikan bagi anak–anak mereka tentang bekal-bekal Al Qur’an pada usia yang sudah relatif besar, itupun dia harus mempersiapkan saranan dan dana yang cukup. Dan saya amat yakin ketika dia mau mengajarkan Al Qur’an pada anaknya pasti tersirat keraguan akan kebenaran bacaannya –ini bagi muslimah yang bisa membaca Al Qur’an.—dan tidak merasa bangga untuk mendidik anaknya sendiri dengan bekal Al Qur’an. Lain persoalannya jika orang tua tersebut tidak peduli dengan bekal Al Qur’an bagi anak-anak mereka, hal ini tidak kita bahas!

Wahai para muslimah, saya ingatkan pada anda bahwa bekal Al Qur’an tidak mungkin anda dapatkan dalam keadaan anda tidur dan bermimpi belajar Al Qur’an dihadapan seorang ustadzah, lalu tiba-tiba anda terbangun dan secara otomatis anda sudah memiliki bekal – bekal Al Qur’an. Ingat, bahwa usaha pintas tanpa perjuangan dan ikhtiar sebagaimana di atas tidak pernah dikenal Islam.

Wahai muslimah, sepanjang pengalaman yang saya tahu, bahwa untuk mendapatkan bekal-bekal Al Qur’an ini ada saja kendala-kendalanya, tapi seringkali kita tidak pernah merasa puas. Saya ambilkan contoh pada saat kita tidak bisa mempelajari Al Qur’an yang benar sesuai dengan kaidah bacaan Al Qur’an karena tidak adanya pengajar dan pembimbing, maka kita jadikan alasan pembenaran untuk tidak belajar dan mendalami Al Qur’an. Tetapi ketika ada seorang pengajar dan pembimbing yang siap untuk membantu kita mempelajari dan mendalami Al Qur’an, seringkali kita tidak merasa bersyukur atas kemudahan tersebut. Banyak sekali komentar-komentar miring, memojokan bahkan bernada fitnah yang seringkali di alamatkan pada pengajar dan pembimbing tersebut, baik dari segi fasilitas, biaya, penanganan dll. Yang pada intinya kita tidak akan pernah merasa puas jika niat belajar dan mendalami Al Qur’an tidak kita luruskan mulai sekarang.

Wahai muslimah, marilah kita berhati-hati dalam banyak hal, baik ucapan, perkataan, sikap dan perbuatan yang kita tujukan kepada muslimah yang sedang belajar dan mengajarkan Al Qur’an. Jangan membuat keruh suasana belajar mengajarkan Al Qur’an dengan persoalan-persoalan dunia, sebab hal ini bisa jadi akan membelokkan niat kita semula, yakni semata-mata untuk Allah Swt.berubah karena dunia. Naudzubillahi min dzalik

Sebagai akhir dari pembahasan saya ini, saya wasiatkan pada antum semua. Kalau anda tidak niat untuk belajar dan mendalami Al Qur’an dengan sungguh-sungguh selagi ada yang mengajar dan membimbing, lebih baik anda tunda dulu keinginan anda belajar tersebut. Jangan sampai anda belajar Al Qur’an tidak ikhlas dan merasa terpaksa menjalaninya, sebab hal ini akan menganggu para muslimah yang lain belajar, karena mungkin saja buah dari ketidak ikhlasan belajar itu rasa tidak puas terhadap hal yang bersifat materi, misalnya: tempat yang tidak memadai, sarana prasarana yang kurang, perlu fasilitas ini dan itu dan masih banyak lagi, yang pada intinya tidak akan pernah merasa puas pada saat ataupun setelah belajar. Sebab keberhasilan mempelajari dan mendalami Al Qur’an itu intinya bukan terletak pada hal yang bersifat materi, di tengah kebunpun (Tanpa AC, meja & kursi dll) belajar Al Qur’an tetap mampu berjalan asal memiliki beberapa syarat, yakni : Adanya motivasi, kesungguhan, kesempatan, pengajar dan yang di ajar, waktu yang cukup, dana.

Adapun bagi antum muslimah yang diluruskan niatnya dan diringgankan usahanya untuk belajar dan mendalami Al Qur’an, mumpung ada pengajar dan pembimbing yang siap membantu antum berusahalah maksimal untuk mendapatkan keberhasilan. Jangan mudah menyerah, toh anda belajar untuk mendapatkan bekal ini tidaklah selamanya, tapi yang lebih lama adalah bagaimana anda mengajarkan dan mengamalkannya. Berjuanglah semampunya sebagaimana kita memperjuangkan harapan dan cita-cita kita, Insya’ Allah jerih payah anda menuju tempat belajar, kebosanan anda belajar, rasa ngantuk, kelelahan dan kepayahan anda selama berjuang mendapatkan bekal – bekal Al Qur’an akan sangat membekas pada pribadi anda. Dan saya yakin bekal Al Qur’an yang anda dapatkan dengan berjuang keras misalnya: harus jalan kaki menuju tempat belajar, harus naik sepeda ontel, kehujanan, kepanasan, bahkan harus merelakan dirinya untuk makan sehari satu kali akan sangat berbeda perolehannya dengan muslimah yang mendapatkan bekal-bekal Al Qur’an dengan cara yang mudah dilakukan, misalnya: mengundang ustadzahnya, santai tanpa mujahadah dll, mengapa? Karena sesungguhnya tabiat bekal-bekal Al Qur’an itu didapatkan dengan perjuangan orang yang mencarinya.Dan tabiat ini sangat dikenal dan pahami para salafussholeh terdahulu, sehingga pantas saja hikmah-hikmahnya masih bisa kita rasakan sampai saat ini. Sebagaima perkataan Ali ra. :”Ilmu itu sebagaimana hewan buruan,…” tentunya memburu buruan itu tidak akan bisa kita dapatkan dengan hanya berdiam diri menunggu keajaiban.

3 pemikiran pada “PENTINGNYA BEKAL – BEKAL AL QUR’AN BAGI SETIAP MUSLIMAH

  1. Terima kasih banyak atas kujungannya….bisa tukar link bersama …? ana ingin ada hubungan dengan blog para penghafal Al Qur’an. Semoga berkah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s