Beranda » Serial Manajemen & Problematika dakwah 01 » MANAJEMEN DA’I BUKANLAH MANAJEMEN ALA SELEBRITIS

MANAJEMEN DA’I BUKANLAH MANAJEMEN ALA SELEBRITIS


Pernah dalam satu acara bincang-bincang ringan dengan beberapa ustadz, yang saat itu sedang membicarakan tentang pentingnya manajemen da’I, kami sedang asyiknya berdiskusi, tiba – tiba saja ada salah satu ustadz diantara kita yang menyela pembicaraan sambil bercerita dengan santainya, wah ….kalau mau terkenal lewat manajemen fulan saja (bukan nama sebenarnya) niscaya kita atau ustadz yang siap dimanajemeninya akan lebih cepat terkenal bahkan sangat terkenal, begitu ustadz tadi bercerita.
Sejak mendengar cerita tadi, saya terus berpikir dan merenung, untuk sekedar berusaha mengkaitkan antara manajemen dan ketenaran, kira- kira apa ya…hubungan antara manajemen dengan ketenaran seseorang .? (pikirku dalam hati). Serta apa pula hubungan ketenaran dengan manfaat dakwah ….? Setelah lama merenungkan cerita tadi saya pun berkesimpulan bahwa memang ada kaitan yang sangat erat antara manajemen dengan ketenaran seseorang, walaupun tidak setiap manajemen berbuah ketenaran. Keterkaitan hubungan antara manajemen dengan ketenaran ini amat dominan jika kita lihat dipentas panggung politik dan panggung hiburan. Hampir manajemen yang diciptakan, ujung-ujungnya adalah popularitas dan ketenaran, kalau dikancah panggung politik buah ketenaran adalah jabatan, sedangkan dipanggung hiburan buah ketenaran adalah fasilitas dan harta melimpah.
Pengambilan kedua contoh realita kedua hal tersebut diatas bukanlah tanpa alasan, karena biasanya :
1. Dibalik orang popular atau orang yang terkenal ada sosok yang mengantur manajemenya, ambilah contoh ketika seseorang ingin atau menghajadkan dirinya menjadi calon pempinan entah itu bupati atau wali kota, presiden dan lain sebagainya, dibelakang mereka pasti ada team suksesnya atau team manajemen. Dan bisa dikatakan keberhasilan seorang balon (bakal calon) pemimpin tersebut (apabila belum populer sama sekali dimata masyarakat) mereka sangat tergantung sekali pada team suksesnya, karena mereka harus mengenalkan pada syarakat melalui brosur, spanduk dan media lainnya. Dan lain halnya jika masyarakat berani mencalonkan kalangan selebtritis, maka manajemen hampir memiliki peran yang sangat minim sekali untuk mendokrak popularitas, karena populaitas telah dibangun sang bintang film atau sinetron tadi. Maka jangan heran kalau kalangan artis yang lebih berminat dan bersemanagat untuk terjun kekancah politik, misalnya marisa haq (wakil Bupaten Banten )walaupun kalah, Rano karno (terpilih sebagai wakil Bupati Tangerang dan satu lagi Dedy Yusuf (wakil Bupati Jawa Barat) – kalaiu kalangan artis jadi pemimpin, mau jadi apa ya.. masyarakat kita ?-
2. Selain seorang pemipimin, kalangan selebritispun banyak yang memakai team manajemen, karena manajemen merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kiprahnya di dunia enterprener, sehingga manajemenlah yang mengatur agar sang artis tetap langgeng dan banyak permintaan pasar dan ujung-ujungnya pun duit.

Kesimpulannya bahwa, memang ada kaitan antara manajemen dengan ketenaran seseorang dan manajemen ini memang merupakan alat atau sarana sangat efektif untuk menjadikan orang tenar dan populer, khususnya didua panggung, yakni panggung politik maupun panggung hiburan.

Jika kita kembali menelaah cerita ustadz di atas, seakan memberikan gambaran pada kita bahwa seorang ustadz bisa tenar dan ngorbit dengan pesat jika dimajemeni dengan baik, layaknya seorang artis. Tapi mungkinkan ada kenyataan tersebut ? Wallahu ‘alam bi showab

Yang jelas bahwa manajemen da’i bukan dimaksudkan untuk mengorbitkan atau menjadikan seseorang bisa tenar di mata masyarakat sebagaimana manajemen ala selebritis, karena jika sampai ada seorang da’i atau penceramah yang dimanajemeni ala selebritis, berakibat pada banyaknya faktor yang negative yang sudah pasti menyertai, yakni :
a. Biasanya yang dimampui seorang da’i tersebut hanyalah melayani dan melayani permitaan masyarakat semata, dan sangat jarang muatan bimbingan, arahan dan teguran yang lembut maupun keras pada masayarakat, akibatnya layanan tanpa bimbingan dan arahana tadi dirinya menjadi sosok da’i yang sangat digandrugi dan dipuja-puja seluruih lapisan masyarakat, karena tidak ada benturan pemahaman sama sekali (berdakwah dan menyampaikan ceramah berdasarkan permintaan pasar, tidak ada besan moral yang mampu menggugah dan memberikan kesadaran pada masyarakat)
b. Kecenderung akan berbelit-belit untuk sekedar berkonsultasi dan bersiloturahmi dengan ustadz/da’i, sehingga masyarakat memenukan banyak kesulitan hanya ingin sekedar bertemu
c. Jika ingin mengundang da’i terbentur dengan biaya, karena tak jarang yang datang saat acara\ceramah tidak hanya sang ustaz/ da’i tapi orang yang tidak memiliki kepentingan pun ikut pula menyertai,. Sehingga untuk mengambil manfaat dari nasehat seorang da’i panitia ceramah tak jarang harus merogoh dana yang cukup besar.
Dan masih banyak lagi kesulitan- kesulitan yang akan didapatkan masyarakat jika seorang da’i dimanajemeni ala manajemen selebritis.
Maka, kita harus membedakan bahwa manajemen da’i bukan manajemen ala selebritis, tapi manajemen da’i ini diperlulkan untuk :
1. Mengkoordinasi para da’i agar memiliki arah dan taget dakwah yang jelas
2. Mengoptimakan potensi da’i yang banyak tersebar ditengah masyarakat
3. Membekali da’i dengan berbagai disiplin ilmu yang menunjang kiprahnya berdakwah
4. Mengembangkan potensi para da’i, khususnya da’i muda atau pemula
5. Meningkatkan mutu da’i agar memiliki nilai dan kemampuan yang mampu mengarahkan ummat ke arah yang lebih Islami dan beradab
6. Memikirkan dan memperhatikan kesejahteraan da’i berserta keluarga
Selain ke 6 hal di atas, fungsi manajemen disini tidak ada hubungan sama sekali dengan ketenaran seseorang, karena ketenaran itu adalah hak Allah Swt semata. Mudah bagi Allah menjadikan tenar tanpa harus dengan adanya manajemen, baik yang tradisional maupun modern sekalipun. Bahkan seorang da’i yang tulis dan iklhlas berdakwah tanpa terbetik dalam hatinya sedikitpun untuk bisa terkenal, tetapi kalau pada akhirnya dia dikenal oleh masyarakat luas semua itu tak lain karena sekario Allah Swt.,dan perlu diingat dia dikenal tak lain karena kegigihan, kesabaran, keistiqomahan dan kesungguh-sungguhannya berdakwah demi mengharap ridlo Allah Saw, dan tidak pernah merasa tersaingi oleh siapapun juga karena yang diharapkan hanya dari Allah Swt.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s